Pemuda ditanganmu kami titipkan masa depan negeri. Pemuda engkau adalah harapan dipundakmu ada beban berat kepemimpinan negeri. Namun hari ini generasi emas itu tak lagi membanggakan, jauh dari pemuda harapan. Banyak kasus pelaku kriminal sadis yang dilakukan oleh pemuda diberbagai daerah.
Tiga ABG di Sukabumi, Jawa Barat diduga pelaku yang membacok siswa SMP berinisaial ARSS (14) hingga tewas. Tragedi pembacokan ini geger di media sosial ditayangkan secara langsung via Instagram, Rabu (22/03/2023).
Polda Yogyakarta telah menangkap pelaku pembunuhan yang diikuti mutilasi berinisial HP terhadap seorang ibu dua anak, A, di Kaliurang, Sleman, Minggu (19/03/2023). Sungguh biadab apa yang dilakukan tersangka HP, dia mutilasi korban menjadi 65 bagian dengan menggunakan pisau dan gergaji. Modus korban ingin menguasai harta korban untuk membayar pinjaman online.
Teguh Pramudya (38), Ketua Karang Taruna Cibadak menyampaikan bahwa dia mendapatkan laporan dari warga adanya rencana tawuran sekelompok pemuda akan melakukan aksinya di ketiga tempat secara bergantian. Hal ini tentu saja membuat resah warga apalagi dilakukan pada bulan Ramadhan. Sekelompok pemuda di Sukabumi ini berdalih tawuran dengan kedok perang sarung untuk mengelabui penggunaan senjata tajam pada sabtu dini hari (25/03/2023).
Tidak jauh berbeda kejadian di Sukabumi, Kapolsek Jagakarsa Kompol Multazam Lisendra menyampaikan telah mengamankan15 remaja yang melaksanakan aksi tawuran, para pemuda tersebut melakukan aksi tawuran dengan menggunakan sarung yang ujungnya diikat batu di jalan Durian, Jagakarsa, Jakarta Selatan, (25/03/2023).
Kasus Mario Dandy yang tak kalah menyita perahatian publik, dengan brutal dan kejam Mario menyiksa David yang sudah tak berdaya, dan dengan bangganya Mario memvideokan aksi kejamnya dan di share ke media sosial (20/02/2023).
Mengapa para pemuda yang menjadi generasi harapan semakin brutal? Bukankah sosok pemuda adalah agen of change, agen perubahan yang akan merubah wajah dunia. Mengapa pemuda saat ini sangat mudah tersulut emosi, sumbu pendek dalam menyelesaikan masalahnya? Ada apa dengan pemuda kita hari ini?
Sebab dan Akibat
Kekerasan menjamur bak cendawan di musim hujan, sungguh menyedihkan pelaku kriminal adalah generasi muda, pelajar bahkan mahasiswa dan jumlahnya semakin hari semakin bertambah dengan modus yang beragam. Pembunuhan, pembacokan, tawuran, pemerkosaan, bullying, penyiksaan dan berbagai kejahatan lainnya. Kasus kriminal semacam ini bukan satu atau dua kali terjadi tetapi berulang kali dan aksinya semakin brutal.
Permasalahan ini bukanlah masalah kasuistik yang dapat diselesaikan dengan cara pragmatis atau jangka pendek, seperti dihukum penjara atau dibina sesaat. Masalah ini sangat serius harus ada solusi tuntas untuk menyelamatkan generasi. Generasi muda yang terbiasa melakukan kekerasan ini harus dididik dan dibina dengan sistem jangka panjang sehingga dimasa mendatang tidak terjadi kasus yang sama.
Akar penyebab dari kasus beragam di atas adalah buah dari sistem sekular kapitalisme yang yang tidak menjadikan agama sebagai aturan dasar dalam kehidupan. Generasi tumbuh dan berkembang dalam asuhan sistem ini, maka lahirlah generasi yang kering iman sehingga tidak memiliki perisai yang kuat dalam mencegahnya untuk berbuat maksiat
Generasi kering iman ini akan mudah terpengaruh dengan perilaku, tontonan, dan konten negatif, ditambah mudahnya mengakses konten-konten yang jauh dari keimanan. Generasi ini juga sangat mudah dikontrol hawa nafsunya tanpa batas, mereka memuaskan hawa nafsunya dengan gaya hidup sekular, liberal dan hedonis.
Bahkan tak sedikit mereka yang terjebak pada lingkaran hidup materialis kapitalistik, yaitu tuntutan materi harus terpenuhi walaupun dengan cara apa pun. Mereka tak segan melakukan kejahatan demi tuntutan gaya hidup, bahkan rela membuat konten berbahaya demi ketenaran dan uang.
Inilah potret generasi yang sakit, sangat urgent memberikan terapi obat yang pas agar penyakit yang mengeroggoti generasi ini dapat disembuhkan. Tentu saja obat yang ditawarkan dokter rasanya pahit dan kadang sangat menyakitkan.
Generasi Emas yang Hilang
Sistem sekular kaitalisme telah gagal mencetak generasi unggul. Kurikulum Pendidikan sekular terbukti telah berhasil menciptakan generasi cerdas pergaulannya bebas, generasi pintar nir empati, dan paling parah sudah tidak cerdas tidak pintar kelakuan bejat, inilah output sistem pendidikan sekular.
Kita rindu generasi emas yang mampu memimpin peradaban, generasi berkualitas secara pemikiran dan berakhak mulia. Generasi ini mustahil lahir dari rahim sistem sekular kapitalisme, karena system ini telah terbukti gagal mencetak generasi unggul. Tatkala makin jauh dari Islam, generasi semakin rusak dan tak beradab. Semakin tinggi nilai-nilai sekular diadopsi, kejahatan kian maksimal. Finish, sistem yang diterapkan sangat mempengaruhi output yang dikeluarkan, bak kata pepatah “garbage in garbage out” bila sistemnya rusak maka jangan berharap output-nya bagus.
Solusi yang Ditawarkan
Islam menawarkan obat yang mampu mengembalikan generasi unggul, generasi khairu Ummah, generasi Rabbani yang berkualitas dan berahlak mulia. Islam menawarkan tiga penawar:
Pertama, Individu yang bertagwa didapatkan dari Pendidikan keluarga. Madrasah pertama anak diawali dirumahnya pola didik dan pola asuh dalam keluarga. Peran central ibu sebagai madrasatun ulla dan ayah sebagai pelindung dan pencari nafkah berkolaborasi membentuk karakter anak. Dan diwajibkan bagi setiap keluarga muslim menjadikan akidah Islam sebagai asas dalam mendidik anak. Pendidikan berbasis akidah Islam akan membentuk karakter iman yang kuat dan ketaatan yang dapat mencegah seseorang berbuat maksiat.
Kedua, Masyarakat yang bertakwa. Setelah terbentuk individu-individu yang bertakwa akan membentuk komunitas masyarakat yang bertakwa dengan indikasi, masyarakat yang memiliki budaya saling menasehati dalam amar makruf nahi mungkar. Bila budaya amar makruf nahi mungkar terjaga dalam masyarakat maka kecil sekali peluang untuk berbuat maksiat. Karena kontrol sosial dalam masyarakat berjalan dengan baik.
Ketiga Negara yang bertakwa adalah negara yang menerapkan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan. Negara yang peduli generasi akan menyelenggarakan sistem Pendidikan berbasis akidah untuk membentuk generasi berkepribadian Islam. Negara wajib memenuhi seluruh kebutuhan pokok rakyat, sehingga masyarakat terhindar dari berbagai kejahatan. Sehingga kondisi keimanan umat akan terjaga dan seluruh problematika kehidupan akan terselesaikan dengan tuntas. Negara yang bertakwa ini akan membawa keselamatan hidup dunia dan akhirat.
Semoga dengan hadirnya bulan mulia ini adalah langkah awal kita memperbaiki hubungan kepada anak, suami, orang tua, tetangga sehingga tercipta hubungan yang harmonis dalam syahdunya Ramadhan. Marilah kita bersinergi mulai dari diri sendiri menjadi individu yang bertakwa, masyarakat bertakwa kemudian menjadi negara besar yang bertakwa. Hingga akan lahirlah generasi unggul pemimpin peradaban.
Wallahu’alam bish-shawwab.
Sumber: